Kembalinya Si Anak Hilang

July 28th, 2006 by dikisatya

“Please, just this once.”

Telepon terputus. Beberapa saat kemudian aku menerima e-mailnya. Data, foto, tempat dan kapan. Aku menarik nafas panjang. Gugup.

Oh well, just this once. Gambar-gambar itu kembali berkelebatan di benakku. Ibunya menangis. Adiknya sesunggukan. Ayahnya seperti tak mampu melihat wajahnya. Wajah-wajah tangis itu.

Sudah bertahun-tahun aku tidak melakukannya. Mengambil posisi, bergerak cepat, menjadi tak terlihat dan tiba-tiba langsung berhadapan dengan target. Sasaran. Korban. Apalah. Yang aku tahu bayarannya saja. Jutaan. Bahkan kalau aku suka, gratis!

Mataku harus awas. Satu derajat saja bisa fatal. Nafas pun harus tak terdengar. Dan jemari pun harus senyawa dengan perintah otak. “Yak, sekarang!” Tidak seperti rusa yang anggun. Mereka mempunyai pola yang terbaca. Merunduk beberapa saat, lantas melongok ke kiri dan kanan. Hanya alam yang menyuruhnya berlari. Selain itu dia hanya berputar-putar saja. Tapi ini manusia. Yang bisa bergerak secara impulsif. Yang leluasa berkehendak dan bergerak kapan saja. Dan itu, aku harus membaca pikirannya.

Ah.. di mana semua insting itu.

Dan jari-jariku semakin kaku mendingin. Kukepulkan nafas di antaranya. Kukepal-kepalkan tangan. Krtk..krtk.. jari-jariku kubuat rileks. Ritual yang selalu kulakukan sebelum beraksi. Mengembalikan lagi sensasi itu.

Di gudang, tas hitam besar itu seperti tersenyum memandangku. “Diam! Bantu aku menyelesaikan tugas ini.” Ada sensasi yang menjalar ketika kembali menyentuh benda-benda metal itu. Dingin. Rugged. Masih kokoh dalam genggaman. Tak bisa kupungkiri bagaimana aku memang sangat merindukannya. Kucoba menutup mata dan merakit mereka satu sama lain. Masih bisa! Walau sedikit lamban. Tak apa, aku masih punya seminggu untuk menyempurnakannya. Kali ini kudapati mereka tertawa seraya mengejek. “Aku bilang, diam!!”

Kali ini mungkin tidak setelan hitam-hitam. Terlalu menyolok. Security zaman sekarang sudah semakin awas dengan penampilan yang eksentrik. Setelan batik saja. Agar lebih gampang menyelinap dan saru dengan intel.

Kupelajari lagi semua file-file tadi sekedar mengulang. Sekedar meyakinkan lagi agar aku benar-benar bisa melakukannya. Taksiku sudah menunggu bak mobil pengantin.

Sejenak sebelum menutup pintu, kutatap bayanganku di kaca. Kali ini dia berkata “Ayolah, kau fotografer handal!”

Ah ya.. fotografer kawinan!

Khayalan Tingkat Tinggi 2

May 30th, 2006 by dikisatya

Can I get you anything, mister?” tanya si waiter sok nginggris. “Ndak usah, makasih.” jawabku sok njawa.

Sudah satu jam kuhabiskan waktu di sini. 1 porsi Pad Thai yang tak begitu enak, minuman soda dan 2 gelas kopi yang dahsyat nikmatnya. Menunggu dan menunggu.

Sekali lagi tombol refresh kutekan di layar monitor komputer. Header.. kerlap-kerlip promo yang jumpalitan kian ke mari.. berita utama.. menunggu lagi judul berita utama tadi.. masih belum juga ditampilkan.. dasar internet lelet!.. dan menunggu lagi.

Tak sabar kubuka WAP services dari pda phone. Meski ribetnya minta ampun, aku rela demi satu berita yang sangat ditunggu-tunggu itu. Log-in, menunggu.., dan mengetik alamat yang dicari. Skenario tadi pun berulang, Header.. kerlap-kerlip promo yang jumpalitan kian ke mari.. berita utama.. menunggu lagi judul berita utama tadi.. masih belum juga ditampilkan.. Begini ternyata rasanya disuruh untuk bersabar. Selalu dihadapkan dengan kenyataan yang itu-itu saja. Pola dan urutan yang itu-itu juga. Huh!

“Kopinya nambah lagi, bapak?” kali ini dia membumi. “Another one, yes. And get me the bill, please.” lagakku bak orang New York. Dia bingung sejenak, lalu menjawab “Menejer di sini namanya Djoko, bapak.” Oh well, ya sudahlah. “Minta bon!” seraya jariku membentuk gerakan kotak.

Sudah jam 4. Dua jam setelah instruksi mencari konfirmasi berita tadi. Belum juga ada titik terang. Sekelilingku seolah-olah tak perduli akan apa yang sedang terjadi. Sibuk dengan powerpoint masing-masing. Mungkin sidejob. Mungkin interview. Mungkin menunggu berita juga, seperti aku.

Ah mana mungkin! Berita ini tak boleh diketahui oleh banyak orang. Setidaknya tidak sekarang. Bisa-bisa segala plot yang sudah direncanakan gagal berantakan. Top Secret. Classified. Kaum elit. Jaringan khusus. ‘Tau sama tau tapi Anda belum tentu tau apa yang saya tau dan saya akan kasi tau apa yang Anda perlu tau saja’. Konspirasi, hanya itu bentuk yang boleh diketahui. Pun oleh orang-orang yang boleh tau.

Kukeluarkan lembaran Soekarno-Hatta untuk membayar si bill tadi. Lagi-lagi dia kembali dengan wajah ragu dan sedikit takut. “Anu.. pak, duitnya..” katanya cengengesan. “Kenapa? ini duit 100 ribuan baru. Kamu tau kan?” hardikku mulai tidak sabar. “Ini uang 10 ribu, bukan 100ribu. Bon bapak Rp 87 ribu, pak”. Oh. Sekali lagi aku harus salut kepada perancang uang ini. Bisa-bisanya membuat kemiripan yang sangat kasat mata. Entah apa tujuannya.

4.15.
Tidak mungkin lagi menunggu. Internet tadi masih menampilkan berita kasus Bupati. Hanya pengembangan berita saksi sebagai lanjutannya. That’s it, aku telfon saja penghubungku. Dua jam waktuku sia-sia berperan sebagai laki-laki metroseksual duduk di pojokan coffee shop seolah sedang menunggu kencan diam-diam.

Open inbox, read message, options, call.

“Anda.. terhubung.. dengan.. no”

OK. Mungkin 10 menit lagi.

Si waiter tadi pun sudah kembali dengan kembalian si bill. Satu lembaran 10 ribu dan beberapa koin. Sudah tidak ada lagi permen sebagai kembalian. “Kip de ceng” kataku dalam hati. Segera kubereskan segala gadget-gadget mutakhirku untuk bergegas pergi.

Langkahku terhenti lagi oleh si waiter. Dia menyodorkan sebuat tisu kepadaku. “Dari bapak yang berdasi itu” seraya menunjuk ke arah seorang laki-laki di pojok seberang. Tampan. Rapih. Flamboyan. Lebih parlente dari penampilanku. Alarm biologisku pun langsung berdering siaga. Not again, please. Harus berapa kali aku menghadapi pandangan berarti itu. Plis de.

Dengan tenang kubuka lembar tisu tadi. Begini isinya:

“Diese sutra stabil. Tinta janda metong, bow. Aborsi ya, nek”

Oh well.

Di Hatimu Saja, Bu

February 3rd, 2006 by dikisatya

Aku bisa melihat bunga itu
Warna-warni dan cantik
Dan nyanyian di hari minggu
Bersenandung puji dan merdu

Aku bisa menyapamu
Tiap pagi di hari-harimu
Walau mungkin tak terdengar
Tapi kudengar panggilmu

Aku yakin engkau tersenyum
Di hari engkau menangis
Untukku bisa terbang seperti ini
Engkau harus tersenyum

Di hatimu saja, Bu
Walau tak di matamu
Di hatimu saja, Pak
Walau tak di pelukanmu

Aku selalu di hatimu

Untuk Anabella, 2002 - 2005.

Bulan Oktober 2005 lalu, si kecil Anabella (3,5 tahun) pergi meninggalkan ayah ibunya akibat komplikasi penyakit yang dideritanya. Ketika kondisi Anabella kritis, gua pergi ke PMI dengan maksud mendonorkan darah yang dibutuhkannya. Terjadi kesalah pahaman, golongan darah gua tidak cocok.
Sampai akhirnya Anabella pergi, masih ada perasaan yang mengganjal di hati gua. Sesuatu yang belum gua berikan tadi. Butuh beberapa waktu untuk akhirnya bisa menuliskan ini.

Black. The End.

November 12th, 2005 by dikisatya

‘Sampoerna Djimar! Hahahaha…’ Mayar tergelak melihat ekspresi Sam yang masih kaget dengan kehadiran Mayar di hutan itu. ‘Aku sudah melihat namamu di daftar kru yang meliput Aceh di Jakarta. Makanya aku berani datang sendiri dan dikawal olehmu, sobat lamaku yang gila!… Heh! Kok bengong? Sini dong sambut teman lamanya!’ Mayar berhambur memeluk Sam yang masih terdiam kayak melihat setan di siang bolong. Atau mungkin pengaruh gele? pikirnya.

Speak of the devil. Belum hilang emosinya tentang Pius, sekarang sudah dihadapkan lagi dengan Mayar, awal dari semua drama itu. Mimpi apa gue kemaren! umpatnya.
Kenangan-kenangan lama pun langsung berceceran di benak Sam. Masa-masa mereka bersama Pius dan Mayar. Suka duka mereka bertiga. Biasanya bertiga, karena Sam tidak pernah punya pacar yang awet. Jadinya Pius dan Mayar selalu menjadi tumpuan kekosongan jiwanya, begitu Sam menggambarkannya. Walau sering sekali Sam hanya menjadi kambing congek mereka berdua. Ah, semakin kuat rindunya kepada Pius.

Sam dan Mayar kemudian bersiap-siap untuk berangkat meliput. Sebuah perundingan yang diadakan di sebuah lereng kurang lebih 10km dari kemah mereka. Di perjalanan mereka hanya saling update tentang belasan tahun mereka tidak berjumpa. Tidak tersebut nama Pius. Mayar masih enggan memulainya. Sam pun segan.

Mayar, seperginya dari Bandung melanjutkan sekolahnya ke London dan jatuh hati dengan jurnalisme. Sosoknya yang pintar dan berkarisma menjadi modal tersendiri yang membuat dia bisa mendapatkan posisi reporter di stasiun televisi Hong Kong. Tidak jarang dia dikirim untuk sebuah assignment yang penting. Maklum, 6 bahasa dikuasainya.
Dan Sam, masih berkutat dengan kameranya. Menjadi mahasiswa dropped out menjadi kemudahan tersendiri baginya untuk menjadi fotografer. Berawal dari sekedar foto-foto model, landscape, aerial hingga 4 tahun belakangan ini lebih berkutat dengan foto jurnalisme. Apalagi dia sangat menyukai petualangan. Sam rela tidak dibayar demi kesempatan bergelantungan di helikopter. Uang gak penting, kepuasannya gak kebeli! Dari dulu Sam memang sering asal dalam keputusan-keputusannya. Walau demikian tetap setia, memotret.

Di tengah perjalanan mereka dicegat oleh sebuah kawanan bersenjata. Tidak begitu jelas dalam pihak siapa mereka. Tidak ada juga tanda atau seragam yang bisa dikenali dari kawanan itu. Pak Said pun turun untuk mengutarakan maksud dan tujuan mereka. Tentunya hanya Pak Said yang bisa berbahasa Aceh. Sekembalinya dia menjelaskan bahwa hanya orang yang berbahasa Aceh yang bisa melewati garis perbatasan yang mereka buat tadi. Dan perihal perundingan itu, sedang berlangsung dari pagi tadi. Tidak boleh ada pihak lain yang memasuki area itu sampai sebuah kesepakatan tercapai.

Mayar masih tidak terima. Dia mencoba turun untuk bernegosiasi dengan mereka namun segera dihentikan oleh Sam. ‘Logika loe bukan logika mereka May! Kita tunggu di sini aja.’ Masih kesal Mayar pun menurut.

‘Ternyata ada juga yang berubah dari loe sekarang.’ Sam tersenyum melihat Mayar yang masih kesal tidak mendapatkan liputan yang berarti.
‘Apanya? Perasaan aku begini-begini aja dari dulu.’ tukas Mayar.
‘Dulu loe lebih pendiam, sekarang lebih vokal.’
‘Hehehe.. iya ya? Mungkin itu semua tuntutan pekerjaan. Jadinya terbiasa.’ Mayar sedikit rikuh. Dia selalu malu kalau ada yang memberi perhatian kepadanya.
‘Eh tapi enggak juga kali ya. Mungkin loe udah latihan dari dulu,’ Sam mulai jail. ‘Itu lho.. sejak loe ninggalin kita bedua makan kerang rebus. Hahahaha..’ Sam sudah tidak tahan untuk tidak menyentuh topik itu.
‘Rese! Aku kira kamu ngga akan ngungkit soal itu. Udah ah. Nyebelin.’ Mayar semakin terpojok. Setegar-tegarnya dia, untuk persoalan ini selalu menjadi kelemahannya.
‘Biarin ah! Udah lama toh kejadiannya. Lagi pula he deserves to know why. You threw him in hell for years May!..’ Sam mulai menjaga nada suaranya. Dia menyadari emosinya mulai bermain. ‘And he threw me as well.’ lanjutnya.

Diam. Hening. Masing-masing membuat jarak.

Tidak terasa hari sudah gelap. Mayar masih mengumpulkan keberanian untuk situasi ini. Dia tersadar akan konsekwensi dari perbuatannya. Yang selama ini dia anggap hanya bebannya sendiri. Paling tidak jalan hidup orang-orang yang disayanginya mempunyai pengaruh tersendiri akibat ulahnya. Adilkah itu? Haruskah dia turut bertanggung jawab akan semua itu? Tidak bisakah nilai-nilai sentimental itu dibuang saja dan go on with our lives? Tapi biar bagaimana pun Mayar mempunyai rasa cinta yang amat sangat terhadap Pius. Terhadap Sam. Terhadap persahabatan ini. Dan sekarang semakin kuat dirasakannya.

‘Sam.’ Mayar memecah kesunyian. Sam seolah terbangun dari lamunannya. ‘Aku selalu merindukan kalian. Selalu. Dan sering aku harus mengelabui hal itu. Aku merasa terhutang akan Pius. Dia selalu menjadi hambatan atas apa yang aku rasakan dalam persahabatan kita ini. Hanya karena kami pernah pacaran. Entah kenapa.’ Mayar tersenyum kecut. Namun lega, kebodohan itu sudah diutarakannya. ‘Padahal mestinya kan kita bisa aja bersahabat terus sampe sekarang kan? Ya kan?’ timpalnya lagi. Kali ini kalimat itu terdengar sangat lugu.

‘Mayar darliiiiiiiing…’ Sam mulai terkekeh geli. ‘Loe tu masih konyol aja ye! Udah lah May. Gua yakin secara kita sekarang udah pada ‘gede’, pastilah kita bisa nerima itu semua dan melanjutkan apa yang kita punya sekarang. Suer!’ Sam merasa lega sekali. Dia juga tidak menyangka akan selega itu. Bertahun-tahun drama ini terjawab sudah. Awas aja kalo Pius sampe ngga terima juga, ucapnya dalam hati.

‘Ya udah. Sekembalinya kita ke Jakarta nanti, akan gua seret pujaan hati Celfius tersayangmu itu kehadapan loe. Kita reuni. For old time sake. Jangan ngeles lagi loe ya.’

‘Rese ah!’ Mayar kembali tersipu. Sebutan ‘pujaan hati’ itu semakin nyata adanya. Sekarang. Di hatinya.

Pak Said sudah tertidur di atas kap mobil dari tadi. Sebagian dari kawanan bersenjata tadi masih berjaga. Lengkap dengan senjata yang terkokang. Situasi bisa saja berubah sewaktu-waktu. Sam dan Mayar pun memutuskan untuk menunggu dan tidur di mobil saja.

•••

Sam tersentak dari tidurnya. Sudah jam berapa ini? Wah sial! Kemana orang-orang itu? Bergegas dihampirinya Pak Said yang masih tertidur di atas kap mobil. Dibangunkannya dengan kasar. Sampai akhirnya dia melihat lubang darah merebak lebar di perut dan dadanya. Sam kalut. Pak Said mati!

Mayar! Dia melihat ke dalam mobil memastikan Mayar masih ada. Oh tidak! Bukan hanya Mayar yang berada di dalam mobil itu. Sam melihat dirinya juga sudah tergeletak di bahu Mayar. Dengan luka tembak masing-masing di dada…

Pagi itu sepi sekali.

“Now the air I tasted and breathed has taken a turn…”

I am Sam (Black Part 3)

November 2nd, 2005 by dikisatya

Nanggroe Aceh Darusallam, Agustus 2005.

Pagi ini sepi sekali. Ini hari ke 4 gua berada di sini. Bosan. Orang-orang itu lagi. Bahasa mereka pun gua tak bisa mengerti. Perundingan yang melelahkan. Entah apa yang mereka coba pertahankan. Sama-sama makan nasi. Sama-sama Islam. Sama-sama manusia. Ah.. mungkin bahasanya! Iya! Mereka bertahan untuk tetap bisa berbahasa Aceh. Haregene.

Hutan ini apalagi! Kayak kuburan saja. Konon katanya binatang-binatang sudah hijrah entah ke mana rimbanya beberapa waktu sebelum tsunami datang menghantam Aceh.

Apa yang tersisa? Ganjo! Haha.. 2 malam saja di sini aku sudah bisa memetik hasil lain daripada perundingan bodoh ini. Berkat tuntunan dari Pak Said, penunjuk jalan-translater-koordinator konsumsi-dan ya, bisa juga dibilang bandar- aku bisa dengan sangat mudah mengenali tumbuhan nirwana itu dalam hitungan 5 detik di hutan ini. Banyak sekali.

Ah Pius sahabatku! Kalau saja loe ada di sini. Kita bisa ulang lagi kejayaan masa lalu. Hanya loe yang bisa mengerti apa artinya ‘smoke em if you got em!’. Hanya saja loe sering terlalu jauh tenggelam dalam setiap lintingannya. Bukannya jadi ringan malah menjadi awal perenungan yang tak henti-hentinya. Siapa lagi kalo bukan Mayar! Dan loe selalu menyangkalnya. Loe terlalu malu mengakui kekalahan loe. Heran.. ada orang yang sampai segitunya mencintai. Mencintai bayangan pula! Konyol.

Ah sobat, apa kabarmu? Lama sekali kita tak berkabar. Jangan-jangan loe sudah kawin. Hahaha.. Tak apalah. Asal gua ngga ngeliat lagi wajah terawang loe itu. Wajah kosong itu. Wajah yang sangat gua kenal. Dan gua benci. Dan yang menjadi perbedaan kita sampai sekarang.

I miss you brur. Sumpah.

Sam masih geram. Ditutupnya catatan harian itu dan kembali membakar ganja terakhirnya. Gampang, nanti juga ada lagi, pikirnya. Ditariknya dalam-dalam. Menghilangkan sesuatu yang menusuk di dadanya tadi.

Dari kejauhan tampak Pak Said memanggil. Sam segera beranjak menuju kemah mereka. Mudah-mudahan kali ini ada perkembangan yang lebih jelas. Daripada hanya berdiam diri di hutan ini tanpa kepastian. “Perang, peranglah! Nyerah, nyerahlah. Susah amat.” Sam masih merutuk dalam hati.

“Dek Sam, barusan saya terima kabar dari Jakarta. Adek diminta untuk tinggal beberapa hari lagi di sini. Ada reporter broadcast asing yang mau meliput juga. Kita ditunjuk untuk mendampingi. Mereka sedang menuju ke sini.” tutur Pak Said. Ya udah. Mau bilang apa juga.

Belum selesai Sam dengan omelannya terdengar suara mobil dari kejauhan. Mobil diesel. Sam tampak sedikit lega. Itu artinya mobil ‘non-blok’, begitu mereka menyebutnya. Bukan pro GAM atau pun NKRI. Untuk sesaat menjadi netral saja bisa menyelamatkan jiwa.
Mobil itu berhenti di depan kemah mereka. Sekali saja terdengar suara pintu terbuka dan kemudian menutup kembali. Dan mobil itu pergi lagi. Hanya satu orang, nekat amat, pikirnya. Sam segera keluar menghampiri reporter itu.

“Buset!..Cewek!” teriak Sam dalam hati melihat sosok wanita di depannya. Perempuan itu masih sibuk membereskan perlengkapannya membelakangi Sam.

“Hi, I am Sam” dia menegur. Secara katanya dari broadcast asing, ya ngomong londo kali ya. Wanita itu berbalik dan tersenyum.

“Anjritt!!”

…bersambung…

Mayar (Black Part 2)

October 18th, 2005 by dikisatya

Dago Simpang 1993

Image hosted by Photobucket.comCelfius masih memesan piring ke 6 kerang rebus kegemarannya. Selalu begitu dan selalu berakhir dengan diare. “Justru di situ sensasinya! Hahaha..” kilahnya sambil meringis keluar dari kamar mandi. Entah sudah yang ke berapa kali hal itu terjadi pada tahun itu.

Tahun itu, genap 3 tahun mereka berpacaran. Masa yang menentukan, orang-orang sering bilang begitu.

Mayar masih memperhatikan jagoannya menuntaskan kerang-kerang yang menganga amis. Pilihan pengamen yang hadir pun sudah beragam. Dari mulai lagu Iwan Fals, yang mirip Iwan Fals, sampai The Radios “We could flow like tear drops from the ocean..” Walau liriknya sering mengalami perubahan di tempat. Entah apa pun itu. Tak penting.

Yang penting sekarang adalah Mayar akan melanjutkan kuliahnya ke Inggris. “Sebulan empat surat, dua kali nelpon deh!” tukas Pius. Masih geram dengan keputusan kepergian Mayar. Sudah lama rencana itu dicanangkan, hanya saja dia tak menyangka harus menghadapinya sekarang. 3 tahun umur hubungan mereka yang jatuh bangun dan masih bertahan.

Bertahan untuk apa? “Ya kawin! Gampang kan?!”
Pius selalu kesal akan pertanyaan Mayar yang itu-itu aja.

Mayar, si pendiam yang cantik. Selalu terlihat anggun dan bijak dalam setiap tutur katanya. Selalu menyimpan sifatnya jahilnya hanya kepada orang-orang tertentu. “Malu ah”. Dia selalu tersipu kalau teman-temannya baru saja menemukan sifat isengnya yang tak pernah mereka sangka akan keluar dari seorang Mayar. Di balik kewarasan pikiran dan ketegarannya Mayar sering menyimpan rasa insecure yang dalam. Akan cita-citanya. Akan keputusan-keputusannya. Akan ibadahnya. Akan cintanya.
Terlebih untuk Pius. Kekasih seumur hidupnya. Ya iya! Sejak kecil mereka sudah bersama-sama. Orang-orang sampai menganggap mereka adalah kakak-adik. Dan pada kenyataannya mereka adalah sepasang kekasih pun agak sulit diterima.
Pun begitu, Mayar selalu merasa kurang memberi yang terbaik untuk Pius. Kurang attentive lah, kurang sabarlah, terlalu cuek lah.

Dan sekarang Mayar akan mengungkapkan rahasia itu.
Lebih baik kau tahu sekarang, sayang. Akan terlihat konyol memang. Dan sebenarnya memang konyol. Bahwa ternyata aku selalu memikirkan diriku, bukan untukmu. Selama ini kita bersama hanya untuk teman kesunyianku. Teman pertanyaan-pertanyaanku. Temanku tumbuh dewasa, atau at least aku menganggapnya seperti itu. Dewasa raga, dan tak pernah aku tahu akan dewasa hati.
Biarlah.. biar kau sebut aku pengecut. Aku memang. Saat ini aku malas untuk berpikir lebih keras untuk semua pertanyaanmu nanti. Aku egois, kau kan tahu itu. Untuk lebih adil lagi, kau juga ‘kan egois! Kita sama-sama tahu ini tidak adil. Kita sama-sama tahu kita selalu menutupinya..

Sesaat lamunan Mayar buyar ketika Sam, sobat karib Pius, datang bergabung. Sam juga tidak kalah sadis dalam urusan kerang. Hanya saja Sam mempunyai ketahanan tubuh yang lebih prima dalam urusan perut.

Sam dan Pius kembali memesan kerang rebus dalam porsi yang banyak. Mengejar ketinggalan, alasan Sam. Merasa terlalu asik dengan kerang-mengerangnya, Pius seolah tersadar dengan keberadaan Mayar di depannya.

“May, kamu ngga mesen juga? Atau mau yang lain kek. Mau apa?”

“Mau putus.” sambut Mayar singkat dan segera bergegas pergi.

Pius dan Sam terdiam percaya tidak percaya. Mereka cuma saling melihat satu sama lain dan Mayar pun sudah menaiki angkot dan hilang.

Tak pernah terdengar kabar lagi sejak itu. Pius pun masih tenggelam dengan teka-teki Mayar. Setahun, dua tahun, tiga tahun dan terlupakan.

“..And twisted thoughts that spin
round my head
I’m spinnin’
Oh I’m spinnin’
how quick a sun can
drop away”

Baca Black Part 1

Ruang Kosong

September 29th, 2005 by dikisatya

“Lorong Jiwa” orang-orang menyebutnya. Ruangan itu memanjang ke dalam seperti lorong. Di kanan-kirinya terdapat rak-rak buku.
Dari situ Pendeta Ken sering ‘mengambil’ petuah kata dan nasihat. ‘Seperti tertulis di kitab ini… Seperti tercatat di kejadian ini… Seperti arti dari lukisan ini…’ Banyak sekali pengetahuan dari lorong itu. Juga kedamaian.
Siapa saja yang memasuki ruangan itu seperti mendapat penyegaran hidup. Walau tidak pernah terjadi mujizat mata dan hal-hal lain seperti acara di televisi. Semua senang, semua penuh, semua semangat.

Tapi hari ini bukanlah hari yang biasa. Ruangan itu terkunci. Sudah 4 hari dia berada di dalam ruangan itu. Hanya beberapa staf gereja saja yang diizinkan masuk. Pun untuk mengantarkan makanan. Tidak lebih dari itu. Pendeta Ken terlihat bungkam. Senyum kesehariannya digantikan oleh cambang putih di sekitar rahangnya. Lantainya berserakan oleh buku-buku. Rak buku itu pun terlihat lengang dan kosong.
Hanya itu yang bisa diceritakan seorang penitua ketika keluar dari ruangan itu.

Jemaat pun mulai bertanya-tanya apa gerangan. Beberapa jadwal rutin gereja tertunda oleh ketidakhadiran Pendeta Ken. Mereka mulai khawatir akan perubahan yang begitu drastis ini. Ironisnya, untuk bertanya langsung saja sepertinya berat sekali. Wibawa Pendeta Ken mampu mengalahkan keragu-raguan mereka. Jemaat itu terlalu mengagungkan sosok pendeta itu. Dia adalah bapak, pemimpin, mentor, sahabat bagi semua orang. Hanya saja mereka menempatkannya lebih tinggi dari biasa.

Hingga diutuslah Pendeta Rick, sahabat dekatnya, untuk datang menemui Pendeta Ken. Sahabatnya yang temperamental ini dipercaya bisa memecahkan teka-teki yang sudah hampir seminggu ini membuat risau banyak pihak. Pendeta Rick terkenal ‘straight forward’ dalam bertutur. Keras, cenderung membentak. Sering sekali tidak terbantah dan mengundang kontroversi. Hanya Pendeta Ken yang mampu berbicara dalam bahasa yang sama dengannya yang kemudian mengejawantahkan pendapat-pendapatnya ke dalam bahasa yang lebih dimengerti awam.

Tapi kali ini justru situasi berbalik. Pendeta Rick harus memainkan peran yang tidak biasanya dia lakoni. “Menjadi si baik ??” guraunya dalam hati.

Pendeta Rick tiba 1 hari kemudian setelah panggilan itu. Sudah hampir seminggu artinya.
Ketukan pintunya saja sudah membuat Pendeta Ken tersenyum. Siapa lagi yang mengetuk pintu dengan irama “Hallelujah-Handel”.. pasti si Rick!

“Kau tahu kenapa aku di sini, kawan?” kalimat pertama yang terucap Pendeta Rick. Si straight forward. Pendeta Ken menjawab dengan senyuman kuyu. Mukanya memucat kurang matahari. Di keningnya selalu ada keringat dingin. Dan kerutan itu bertambah, menurut Rick.

“Kau tidak seperti ini Ken. Kau selalu punya jawaban. Kau selalu tahu segala hal. Orang-orang selalu datang padamu dan sekarang pun mereka datang padamu untuk mengetahui keadaanmu…” Rick mulai emosi “ keadaanmu yang bungkam ini..”
Muka Ken mulai berubah.

Tak kuasa ditahannya lagi. “Rick, kita sudah berapa lama menjadi pendeta..30 tahun bukan? 30 tahun melayani umat Tuhan. Menjawab panggilanNya. Memberikan inspirasi bagi mereka yang putus asa. Memberi dorongan bagi yang berduka. Bergelut dengan problematika manusia. Bergumul dengan kepercayaan. Diancam. Dipertanyakan. Dituntut untuk selalu benar. Zero error..”

“Apa maksudmu? Kau mulai kehilangan kepercayaan oleh pekerjaanmu?” Rick menyambar tidak sabar. Cemas sahabatnya kehilangan keyakinan. Setelah sejauh ini.

“Bukan.” bibir Ken mulai bergetar. Suaranya parau “Bertahun-tahun aku berdoa padaNya. Berbicara padanya. Akan segala hal. Tentang menjadi pendeta. Tentang menjadi manusia. Beribu-ribu doa sudah. Beribu-ribu AMEN. Tapi sekarang aku merasa ada yang hilang. Ada yang tak kudapat lagi belakangan ini.”

“Kau sudah lupa berdoa?” tebak Rick khawatir.

Ken mulai menangis.

“Ya. Kurang lebih. Aku kehilangan doaku. Aku kehilangan baiknya doa. Aku kehilangan apa artinya berdoa. Semua kuucapkan saja. Semua kuceritakan saja. Semua kumohon saja. Tak kudapat lagi harapan sebuah doa itu. Aku malu. Banyak orang kuajarkan berdoa. Kuajarkan pada mereka untuk memuji dan meminta juga berharap. Doaku hilang!!”

“Kenapa tak kau minta saja padaNya? You know.. berdoa!”

“Aku lupa.”

“Mari kawan.. mari kita berdoa..”

Keesokan harinya, dan hari-hari berikutnya, Pendeta Ken kembali melayani umatnya di gereja itu. Tidak ada lagi ruang terkunci. Tidak ada lagi pertanyaan-pertanyaan tentang doa. Dia semakin giat mengajak orang berdoa.

“And in the naked light I saw
Ten thousand people, maybe more.
People talking without speaking,
People hearing without listening,
People writing songs that voices never share
And no one deared
Disturb the sound of silence..”
Simon & Garfunkel, Sound of Silence

*Thanks to Jaja atas judulnya.

Surat. Cinta dan Sobat.

September 8th, 2005 by dikisatya

“Black.”
Cuma itu pesan yang tertulis di inboxnya. Sebuah e-mail dari sobat lama. Belasan tahun tak bertemu. Dia pun masih tak mengerti bagaimana sobatnya ini bisa mengetahui alamat e-mailnya yang sekarang. E-mail tempat dia bekerja.

Dan pesan itu. Artinya hitam. Juga gelap. Suatu kesepakatan bersama pada zaman itu bahwa ‘Black’ menggambarkan suatu kekelaman yang amat dalam dari sebuah suasana hati, kondisi mental atau apa pun yang dulu mereka anggap ‘cool’. Terinspirasi dari lagunya Pearl Jam. Simak saja semua liriknya, tak ada yang tak kelam. Marah. Frustrasi. Putus asa. Meraung.
Dulu pesan ini kerap mereka pakai untuk menyampaikan pesan ‘gawat’ melalui penyeranta mereka masing-masing. Gawat? Apalagi kalau bukan asmara monyet. Putuslah. Ributlah. Macem-macemlah.

Lantas apa maksudnya kali ini? Belasan tahun tak berkabar, bagaimana bisa tahu keadaan dia sekarang. Terakhir yang bisa dia ingat adalah sobatnya itu dengan motor bebek kebanggaannya berikut seperangkat tas kamera. “Modal jual pesona ke cewe-cewe” alasannya terkekeh. Harus diakui berkat kameranya, ada saja cewek-cewek yang termakan gombal sobatnya itu. Tak banyak yang berhasil, tapi bukan berarti tidak ada yang sukses. Pelan-pelan dia mulai merindukan sobatnya itu.

“Buset! Gampang banget. Reply aja emailnya, tolol!” seolah terhentak dari lamunan masa lalunya. Dia pun membalas email dengan beribu pertanyaan dan nostalgia mereka dulu. Yang pasti dia sudah membubuhkan nomer handphone, alamat terakhir juga profile lengkap di frenster. “Gini hari kagak punya frenster!” pikirnya.

Satu, dua, tiga hari tak ada berbalas. Dia pun mulai gusar. Pelan-pelan kerinduannya berkembang menjadi pertanyaan tak menentu. Dan lagu itu pun kembali terngiang-ngiang di kepalanya. *thudututu tududu..thudututu tududu..*Kali ini lebih keras dan jelas. Semakin membuatnya panik. Ya, kali ini dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Dia panik.
*thudututu tududu..thudututu tududu..*

Sepulangnya dari kantor, ibunya menyambutnya dengan sebuah amplop coklat besar. Baru datang tadi sore, kata ibunya. Tertulis di situ namanya. Seperti yang diharapkannya, pengirimnya adalah sobatnya. Sambil mengutuk, dengan tak sabar dia merobek isi amplop itu.

Berisikan foto-foto dan selembar kertas. Ah foto-foto nanti sajalah! Palingan hanya tampang blo’onnya dia dengan pose-pose seronok. Segera dia raih surat itu.

Begini isinya:
“Sobat. Maafkan emailku kemarin. Sepertinya itu prologue akan kabar yang akan kusampaikan kepadamu saja.
Mayar, kekasihmu dulu. Kami bertemu kembali dalam satu misi perdamaian di NAD. Jangan khawatir. Aku hanya menyayanginya, bukan mencintainya. Dia seorang reporter yang tangguh. (Oh ya, aku kan masih fotografer). Kami ditugaskan dalam perundingan terakhir di Aceh Timur. Sebuah perundingan yang rumit membawa celaka. Terjadi penyerangan. Mayar tidak selamat. Dalam pesan terakhirnya dia ingin kau tahu bahwa dia baik-baik saja dan agar kau tetap mengenangnya dengan baik. Tidak ada yang selamat dalam penyerangan itu. Aku, juga seperti Mayar. Tapi janji tetaplah janji. Sobat tetaplah sobat. Kirannya kau tahu sekarang. Salam, sobatmu.”

And now my bitter hands shake beneath the clouds of what was
everything
All the pictures sent all been washed in black
…tattooed everything
Black, Pearl Jam

Surat Cinta

August 12th, 2005 by dikisatya

Sayangku,
Apa kabarmu? Sebulan sudah kau tak berkabar. Kuruskah engkau? Jangan lupa pakai syal yang kusisipkan di dalam tasmu. Kau selalu mencoba melupakannya. Parlente!, begitu katamu. Tapi pakailah. Musim sudah masuk dingin. Mungkin sebentar lagi sering badai.

“Kau akan membaca surat paling indah yang pernah kau dapati.” Itu katamu dulu waktu engkau pamit. Walau aku tak begitu mendengar dengan jelas. Karena aku sibuk menciumimu. Kucium lagi. Kupandangi lagi. Wajahmu yang rupawan. Kucium dan kupeluk lagi. Aku tahu kau akan pergi lama. Jadi biar kupuaskan keberadaanmu di detik-detik itu.

Jangan pergi, kataku. Justru harus! Kau jawab dengan matamu.
Impianmu memang mengalahkan segala-galanya. Tapi bukan aku. Aku pasti menunggumu di sini. Percayalah.. kau akan mengerti nanti.

Lantas siapa dia?
Yang selalu membuat engkau tersipu dan pendiam. Seseorang yang kau simpan hanya untuk dirimu. Tak mau kau bagi. Apakah dia mengurusmu dengan baik? Seperti aku? Haruskah aku bersaing dengan dia? Tak apa. Aku pasti menunggumu di sini. Kau pun boleh membawa dia padaku.

Sayangku,
Kapan engkau pulang? Musim semakin dingin. Orang-orang sudah masuk ke dalam rumah. Tak mau lagi saling sapa. Jalanan hanya berisikan hembusan angin. Tiada bisik terdengar. Dedaunan hijau mulai pudar. Dan aku pun semakin tua.

Pulanglah sayang…

Mama

(Terinspirasi dari film “Motorcycle Diaries”. Dan teringat akan surat-surat cinta.)

Catatan Pinggir Demonstran

August 12th, 2005 by dikisatya

Suryadi Negarawan
Selalu berada di garis depan demo-demo mahasiswa. Seorang teman mahasiswanya pernah menjadi korban pemukulan dari aparat ketika sedang beraksi. Merasa terpanggil untuk meneruskan perjuangan temannya itu, kini terus mengikuti demo-demo apa saja yang bernada anti pemerintah. SBY salah. Megawati salah. Gus dur apalagi. Mungkin Amien Rais yang benar. Nanti Amien Rais jadi presiden, dia pun tetap salah.

Prasetyo Harry
Dari awal semester tidak pernah mengikuti kuliah. Senang berkumpul dengan teman-teman untuk membahas konspirasi elit politik, militer dan sosial bawah. Mengidolakan tokoh demonstran seperti BS, SHG, bahkan penyair CA. Mengkikir rambutnya agar mirip dengan mereka. Atau selalu melinting kemejanya. Gambaran orang-orang kritis, pikirnya. Nilai jeblok di kampus tidak soal, selagi dapat memakai jaket almamater untuk turun ke jalan. “Lawan!” kata itu yang selalu terngiang di kepalanya.

Drajat Panji
Masih bingung ketika ditanya apa arti perjuangan mereka di jalan. Sudah hampir sebulan tidak pulang ke rumah. Di rumah dia dianggap aneh karena selalu bercerita tentang Bung Karno, Che Guavara dan lolongan garang Iwan Fals. Jalanan adalah rumahnya. Tetapi menolak disebut anak jalanan. “Aku bukan pengamen. Aku bukan pengemis” katanya. Dia juga tidak berani menyebut dirinya preman.

Sri Kartini.
Lebih senang menyebut dirinya “Arti”. Sebal diolok-olok sebagai “Kartini” maupun “Sri Kandi”. Nama-nama itu seperti tidak sesuai lagi bagi dia, orang modern. Senang membantu teman-temannya ketika sedang berdemo sebagai bagian logistik. Membagi-bagi botol mineral maupun mengkoordinir sumbangan simpatisan yang mendukung gerakan-gerakan mereka. Dulu sering. Sekarang sumbangan itu seperti sudah terabaikan. Cintanya kepada ketua senat pun mulai hambar. Ketika ketua senat yang senang berorasi itu semakin dikerubungi cewek-cewek pengikutnya.

Jawir Mat Kodak.
Terkenal dengan nama itu. Tidak begitu banyak yang tahu nama aslinya. Yang pasti dia orang Jawa dan suka memotret dokumentasi demo, selain sesekali hunting foto cewe cakep. Sesekali mengaku pers kalau sedang kepepet diidentifikasi sebagai salah satu demonstran.

Hamonangan Sianturi.
Batak murni. Bermodal dari tampang sangar dan suara lantang, dia pun didaulat untuk memegang mikropon/toa. Mengkomando barisan dengan yel-yel atau nyanyian satir tentang pemerintah, atau orasi-orasi singkat tentang kecemburuan sosial. Yang mana semua orang juga tahu. Dia akan terus memegang mikropon itu, bernyanyi, berorasi sampai harus ada yang menghentikannya. “Batak Tampil” teman-temannya menyebut begitu.

Mereka ingin didengar. Mereka ingin dilihat. Mereka ingin diakui. Mereka ingin membuat perubahan.

Mereka jangan ditembak. Mereka penerus bangsa, suka atau tidak. Mereka juga yang kemudian jadi presiden.

Kita?
Apakah kita lebih baik dari mereka?
Apakah kita juga mereka?