Archive for August, 2005

Surat Cinta

Friday, August 12th, 2005

Sayangku,
Apa kabarmu? Sebulan sudah kau tak berkabar. Kuruskah engkau? Jangan lupa pakai syal yang kusisipkan di dalam tasmu. Kau selalu mencoba melupakannya. Parlente!, begitu katamu. Tapi pakailah. Musim sudah masuk dingin. Mungkin sebentar lagi sering badai.

“Kau akan membaca surat paling indah yang pernah kau dapati.” Itu katamu dulu waktu engkau pamit. Walau aku tak begitu mendengar dengan jelas. Karena aku sibuk menciumimu. Kucium lagi. Kupandangi lagi. Wajahmu yang rupawan. Kucium dan kupeluk lagi. Aku tahu kau akan pergi lama. Jadi biar kupuaskan keberadaanmu di detik-detik itu.

Jangan pergi, kataku. Justru harus! Kau jawab dengan matamu.
Impianmu memang mengalahkan segala-galanya. Tapi bukan aku. Aku pasti menunggumu di sini. Percayalah.. kau akan mengerti nanti.

Lantas siapa dia?
Yang selalu membuat engkau tersipu dan pendiam. Seseorang yang kau simpan hanya untuk dirimu. Tak mau kau bagi. Apakah dia mengurusmu dengan baik? Seperti aku? Haruskah aku bersaing dengan dia? Tak apa. Aku pasti menunggumu di sini. Kau pun boleh membawa dia padaku.

Sayangku,
Kapan engkau pulang? Musim semakin dingin. Orang-orang sudah masuk ke dalam rumah. Tak mau lagi saling sapa. Jalanan hanya berisikan hembusan angin. Tiada bisik terdengar. Dedaunan hijau mulai pudar. Dan aku pun semakin tua.

Pulanglah sayang…

Mama

(Terinspirasi dari film “Motorcycle Diaries”. Dan teringat akan surat-surat cinta.)

Catatan Pinggir Demonstran

Friday, August 12th, 2005

Suryadi Negarawan
Selalu berada di garis depan demo-demo mahasiswa. Seorang teman mahasiswanya pernah menjadi korban pemukulan dari aparat ketika sedang beraksi. Merasa terpanggil untuk meneruskan perjuangan temannya itu, kini terus mengikuti demo-demo apa saja yang bernada anti pemerintah. SBY salah. Megawati salah. Gus dur apalagi. Mungkin Amien Rais yang benar. Nanti Amien Rais jadi presiden, dia pun tetap salah.

Prasetyo Harry
Dari awal semester tidak pernah mengikuti kuliah. Senang berkumpul dengan teman-teman untuk membahas konspirasi elit politik, militer dan sosial bawah. Mengidolakan tokoh demonstran seperti BS, SHG, bahkan penyair CA. Mengkikir rambutnya agar mirip dengan mereka. Atau selalu melinting kemejanya. Gambaran orang-orang kritis, pikirnya. Nilai jeblok di kampus tidak soal, selagi dapat memakai jaket almamater untuk turun ke jalan. “Lawan!” kata itu yang selalu terngiang di kepalanya.

Drajat Panji
Masih bingung ketika ditanya apa arti perjuangan mereka di jalan. Sudah hampir sebulan tidak pulang ke rumah. Di rumah dia dianggap aneh karena selalu bercerita tentang Bung Karno, Che Guavara dan lolongan garang Iwan Fals. Jalanan adalah rumahnya. Tetapi menolak disebut anak jalanan. “Aku bukan pengamen. Aku bukan pengemis” katanya. Dia juga tidak berani menyebut dirinya preman.

Sri Kartini.
Lebih senang menyebut dirinya “Arti”. Sebal diolok-olok sebagai “Kartini” maupun “Sri Kandi”. Nama-nama itu seperti tidak sesuai lagi bagi dia, orang modern. Senang membantu teman-temannya ketika sedang berdemo sebagai bagian logistik. Membagi-bagi botol mineral maupun mengkoordinir sumbangan simpatisan yang mendukung gerakan-gerakan mereka. Dulu sering. Sekarang sumbangan itu seperti sudah terabaikan. Cintanya kepada ketua senat pun mulai hambar. Ketika ketua senat yang senang berorasi itu semakin dikerubungi cewek-cewek pengikutnya.

Jawir Mat Kodak.
Terkenal dengan nama itu. Tidak begitu banyak yang tahu nama aslinya. Yang pasti dia orang Jawa dan suka memotret dokumentasi demo, selain sesekali hunting foto cewe cakep. Sesekali mengaku pers kalau sedang kepepet diidentifikasi sebagai salah satu demonstran.

Hamonangan Sianturi.
Batak murni. Bermodal dari tampang sangar dan suara lantang, dia pun didaulat untuk memegang mikropon/toa. Mengkomando barisan dengan yel-yel atau nyanyian satir tentang pemerintah, atau orasi-orasi singkat tentang kecemburuan sosial. Yang mana semua orang juga tahu. Dia akan terus memegang mikropon itu, bernyanyi, berorasi sampai harus ada yang menghentikannya. “Batak Tampil” teman-temannya menyebut begitu.

Mereka ingin didengar. Mereka ingin dilihat. Mereka ingin diakui. Mereka ingin membuat perubahan.

Mereka jangan ditembak. Mereka penerus bangsa, suka atau tidak. Mereka juga yang kemudian jadi presiden.

Kita?
Apakah kita lebih baik dari mereka?
Apakah kita juga mereka?

Dia dan Rahasia (untuk) Sejuta Umat

Friday, August 12th, 2005

Kesetiaan. Hanya itu yang aku punya.

Setiap pagi aku pergi berkerja kata-kata itu yang selalu terucap dalam doa. Doa agar tidak terganggu dari segala godaan. Yang selama berpuluh-puluh tahun telah kuemban.

Ritual sakral dengan fasih kulakukan. “Mengantar dokumen penting” hanya itu yang mereka tahu. Aku pun lantas pergi ke toilet. Berganti pakaian. Menyusup dari pintu belakang. Lantas menuju ke dalam mobil container itu. Di dalamnya aku memakai lagi topeng penutup wajah dan setelah itu meringkuk masuk ke dalam peti kemas yang sudah disediakan.

Tak lama kemudian supir pun datang dan membawa mobil itu ke tempat tujuan. Aku pun tak pernah tahu di mana. Tak ada yang pernah tahu. Supir yang mengantarkanku pun tidak tahu sebenarnya dia sedang membawaku di dalam peti kemas itu. “Mengantar supply barang” hanya itu yang dia tahu.

Kalau peti kemas sudah berguncang-guncang, artinya aku sudah sampai. Di sana, seperti biasa, aku pun menemui orang-orang yang bertopeng. Dari semua mereka yang bertopeng, salah satunya adalah Tuanku. Bisa kukenali dengan bahasa isyarat tubuhnya, dia suka menggaruk selangkangannya.

Mereka akan menggiringku ke dalam ruang kaca kedap suara itu. Ruangan itu seperti ruangan investigasi yang biasa terlihat di film-film polisi. Cermin satu arah, mereka dapat melihatku, namun aku tidak bisa melihat mereka.

Aku pun mulai bekerja. Meracik campuran bahan-bahan tersebut. Berpuluh-puluh tahun kulakukan ini. Tak boleh salah. Setiap sendok harus tepat. Setiap iris harus rapih. Tak ketinggalan, cara mengaduknya pun harus dengan jurus yang benar. Tak ada teknologi canggih pun yang bisa menyamai formula ini. Berkali-kali orang lain mencoba, tidak pernah berhasil. Paling hanya 60% dari aslinya.

Demikian formula itu pun selesai. Tugasku sudah selesai. Sekarang giliran tim pembagi yang akan menakar tiap-tiap kantung ajaib (begitu kami menyebutnya) itu. Untuk kemudian disebarluaskan.

30 menit yang melelahkan. Tetapi sangatlah penting. Menyangkut ribuan orang, jutaan bahkan. Pernah aku tergoda untuk sesekali melenceng dari skenario ini. Bahkan berpikiran untuk membocorkannya. Namun harga dari sebuah kesetiaan terlalu besar untuk dibandingkan dengan pikiran sesaat tadi.

Mereka pun memulangkanku. Kali ini tak lagi bertopeng. Tapi selalu bersama Tuanku. Aku akan diturunkan di suatu tempat umum. Dari situ aku akan mencari kendaraan umum untuk kemudian kembali ke kantor. Tidak lupa Tuanku memberi kantongan plastik bertuliskan “Toko Roti Djaya”. Tampak seperti bungkusan roti yang lezat, tetapi dalamnya mudah ditebak, uang. Itulah gajiku sebenarnya, si peracik formula bumbu mie instan.

[Terinspirasi dari tulisannya Sesek di blognya. Tengkyu Sek! hehehe..]

Khayalan Tingkat Tinggi

Friday, August 12th, 2005

“Aku bisa saja membunuhnya!” teriakku dalam hati.

Paling tidak dengan garpu makan. Atau pisau roti yang tertata di meja. Pura-pura menjatuhkan minuman yang kusaji, agar dia merunduk dan tergoroklah lehernya. Selesai! Manusia yang paling diburu dan dibenci orang itu pun bisa kuenyahkan seketika itu. 10 tahun penjara tak apalah. Mungkin juga orang-orang memaafkannya, karena toh manusia itu juga banyak yang mau membunuhnya. Atau menghukumnya. Atau apapun pilihan katanya, yang penting menderita.

Bertahun-tahun dibuatnya orang sengsara. Tertipu. Terperdaya dengan kedok-kedok rencana kemakmurannya. Memang dia makmur, kami tidak. Tidak sedikit yang sudah disingkirkan. Tidak sedikit juga yang menjadi buta. Atau yang bodoh. Atau yang tetap bodoh sekali pun. Kehancuran yang ditinggalkan pun tidak sedikit dibanding kerukan harta yang dia rampas dari masa keemasannya dulu. Dan banyak lagi. Tidak sedikit.

Walau pun demikian, dia masih santun dalam tutur katanya. Memesan makanan, bahkan menanyakan menu spesial hari ini, dan tak lupa memesan hidangan penutup. Tidak juga ramah seperti dugaanku. Kalau dia sudah tampil sangat bersahaja seperti sekarang, makan di restoranku yang juga sederhana ini, kenapa pula dia mesti arogan seperti dulu?! Namun ternyata aku salah. Air mukanya dingin saja.

Tapi mata itu. Mata itu tidak lagi mata yang mengelabui seperti dulu. Seperti yang kukenal. Seperti orang-orang takuti dan harus terkecut senyum. Mata itu padat sekali. Ruas-ruas retinanya seperti terlalu banyak untuk memancarkan ekspresi. Mungkin gambaran perjalanan hidupnya bisa terlihat di situ. Walau pun sudah kabut sekarang. Sejenak aku pun hampir tak bisa mengingat dosa apa yang membuatnya seperti sekarang ini. Terlalu banyak, aku pun malas menghitungnya.

Sekarang dia memanggilku. Akan membayar dia, pikirku.

Sekarang! Sekarang saatnya! Kau akan tentukan hidupnya. Kau bisa mengakhiri teka-teki ini. Pertanyaan, dendam, kesempatan orang untuk menjadi senang.. Sekaranglah!

Dengan limbung kuhampiri dia. Menanggapi panggilannya, menerima lembaran uang dan mengucapkan terimakasih. Kali ini balik dia yang menanggapi rasa penasaranku.

“Kau ingin mati?” tanyanya.
“Tidak” jawabku. Tentu saja kaget. Aku tidak siap dengan pertanyaannya.
“Kau ingin mati bersamaku?” dia bertanya lagi.

Sial! benar juga dia. Untuk apa aku mati bersamanya. Aku terpaku. Benar-benar membatu. Geram, marah, bingung perlahan-lahan menjadi bius yang membuat aku takut. Tak jelas takut akan apa.
Dia pun beranjak dari kursinya. Menganggukkan kepala dan berjalan keluar. Aku masih terpaku. Mulai lunglai. Pandanganku berkunang-kunang, terhuyung-huyung dan kemudian jatuh.

Sekitar satu jam kemudian aku terbangun oleh kapas alkohol yang disengatkan ke lubang hidungku. Pandanganku masih berkunang-kunang tak sepenuhnya sadar. Orang-orang di sekelilingku pun ramai. Satu-satu bertanya dan mencecar. Cukup untuk membuatku pingsan lagi. Dalam penjelasan singkat dari mereka aku pun diceritakan duduk perkaranya.

Dia ditemukan mati di depan pintu restoranku. Diagnosa mengatakan penyebab kematiannya adalah kolesterol berlebihan.

Aku? Apakah aku membunuhnya juga? Entahlah. Pemeriksaan masih akan berlanjut sampai dengan 1 bulan ini. Atau lebih. Entahlah..

Surat dari Tahun 2005

Friday, August 12th, 2005

Gie, setelah masamu sudah banyak yang berubah. Tidak lagi kaisar Hirohito. Tembok Berlin sudah rubuh. Soviet pun sudah bubar berantakan. Dan masih banyak lagi perubahan dunia yang menjadi sejarah.

Tidak lagi Soeharto. Ada Habibie. Ada Gus Dur. Ada Megawati (putrinya Soekarno, presiden yang kau kritik itu). Dan sekarang Yudhoyono. Namun selain Soeharto, tidak ada yang pernah menjabat selama 5 tahun penuh. Jadi masing-masing sibuk dengan rencana ke depan yang selalu terputus oleh alih jabatan yang harus dimulai lagi dari nol. Dan sistem baru lagi. Dan orang baru lagi. Dan idealisme yang baru pula. Dan lagi-lagi dari nol.

Mahasiswa? Keren banget, Gie. Kalau dulu hanya dominasi UI dan perguruan tinggi negri lainnya, sekarang sudah sangat banyak mahasiswa yang mau turun ke jalan menyuarakan suara rakyat. Berikut dengan agenda yang beragam-ragam tiap minggunya.
Dari sekedar memaki pemerintah, mencoba-coba merubah peraturan, atau sekedar ikut-ikutan berpawai menyaingi badut yang mereka pertentangkan. Terkadang menjadi sangat sulit untuk membedakan duduk permasalahannya.

Rakyat kita pun sekarang sangat beragam, Gie. Tidak sepenuhnya seperti dulu, semuanya miskin. Jadi tidak semuanya juga peduli akan kemiskinan. Atau kesama-rataan. Atau persamaan hak. Atau apapun itu dalam dalil adil. Masih banyak koruptor, itu pasti. Tapi masih banyak juga yang memilih untuk tetap miskin. Biasanya mereka lebih memilih protes ketimbang berjuang memerangi kemiskinan itu sendiri.

Koe hebat ya, Gie. Perjalanan hidupmu di filemkan! Hanya saja kali ini idungmu mancung! Tetapi dengan referensi dan riset yang mendalam, kami-kami yang muda ini bisa kurang lebih menangkap apa yang dulu kamu teriakkan, walau pun teriakan itu lebih terdengar dari dengung hatimu. Bukan toa-toa sember.

Gua jadi mikir, Gie. Sekiranya kau hidup di zaman sekarang, di mana kau berada? Di ruang-ruang kampuskah? Di gunung-gunung sepikah? Atau masih bersembunyi dari rongrongan intel? Di hati para cecewe-cecewe kah?

Gua harap tidak sekedar tercetak di kaos-kaos pop sablonan a la Che Guavara..

Kangen abangku Yanto, 1968-1988.