Surat. Cinta dan Sobat.
“Black.”
Cuma itu pesan yang tertulis di inboxnya. Sebuah e-mail dari sobat lama. Belasan tahun tak bertemu. Dia pun masih tak mengerti bagaimana sobatnya ini bisa mengetahui alamat e-mailnya yang sekarang. E-mail tempat dia bekerja.
Dan pesan itu. Artinya hitam. Juga gelap. Suatu kesepakatan bersama pada zaman itu bahwa ‘Black’ menggambarkan suatu kekelaman yang amat dalam dari sebuah suasana hati, kondisi mental atau apa pun yang dulu mereka anggap ‘cool’. Terinspirasi dari lagunya Pearl Jam. Simak saja semua liriknya, tak ada yang tak kelam. Marah. Frustrasi. Putus asa. Meraung.
Dulu pesan ini kerap mereka pakai untuk menyampaikan pesan ‘gawat’ melalui penyeranta mereka masing-masing. Gawat? Apalagi kalau bukan asmara monyet. Putuslah. Ributlah. Macem-macemlah.
Lantas apa maksudnya kali ini? Belasan tahun tak berkabar, bagaimana bisa tahu keadaan dia sekarang. Terakhir yang bisa dia ingat adalah sobatnya itu dengan motor bebek kebanggaannya berikut seperangkat tas kamera. “Modal jual pesona ke cewe-cewe” alasannya terkekeh. Harus diakui berkat kameranya, ada saja cewek-cewek yang termakan gombal sobatnya itu. Tak banyak yang berhasil, tapi bukan berarti tidak ada yang sukses. Pelan-pelan dia mulai merindukan sobatnya itu.
“Buset! Gampang banget. Reply aja emailnya, tolol!” seolah terhentak dari lamunan masa lalunya. Dia pun membalas email dengan beribu pertanyaan dan nostalgia mereka dulu. Yang pasti dia sudah membubuhkan nomer handphone, alamat terakhir juga profile lengkap di frenster. “Gini hari kagak punya frenster!” pikirnya.
Satu, dua, tiga hari tak ada berbalas. Dia pun mulai gusar. Pelan-pelan kerinduannya berkembang menjadi pertanyaan tak menentu. Dan lagu itu pun kembali terngiang-ngiang di kepalanya. *thudututu tududu..thudututu tududu..*Kali ini lebih keras dan jelas. Semakin membuatnya panik. Ya, kali ini dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Dia panik.
*thudututu tududu..thudututu tududu..*
…
Sepulangnya dari kantor, ibunya menyambutnya dengan sebuah amplop coklat besar. Baru datang tadi sore, kata ibunya. Tertulis di situ namanya. Seperti yang diharapkannya, pengirimnya adalah sobatnya. Sambil mengutuk, dengan tak sabar dia merobek isi amplop itu.
Berisikan foto-foto dan selembar kertas. Ah foto-foto nanti sajalah! Palingan hanya tampang blo’onnya dia dengan pose-pose seronok. Segera dia raih surat itu.
Begini isinya:
“Sobat. Maafkan emailku kemarin. Sepertinya itu prologue akan kabar yang akan kusampaikan kepadamu saja.
Mayar, kekasihmu dulu. Kami bertemu kembali dalam satu misi perdamaian di NAD. Jangan khawatir. Aku hanya menyayanginya, bukan mencintainya. Dia seorang reporter yang tangguh. (Oh ya, aku kan masih fotografer). Kami ditugaskan dalam perundingan terakhir di Aceh Timur. Sebuah perundingan yang rumit membawa celaka. Terjadi penyerangan. Mayar tidak selamat. Dalam pesan terakhirnya dia ingin kau tahu bahwa dia baik-baik saja dan agar kau tetap mengenangnya dengan baik. Tidak ada yang selamat dalam penyerangan itu. Aku, juga seperti Mayar. Tapi janji tetaplah janji. Sobat tetaplah sobat. Kirannya kau tahu sekarang. Salam, sobatmu.”
…
And now my bitter hands shake beneath the clouds of what was
everything
All the pictures sent all been washed in black
…tattooed everything
Black, Pearl Jam