Mayar (Black Part 2)

Dago Simpang 1993

Image hosted by Photobucket.comCelfius masih memesan piring ke 6 kerang rebus kegemarannya. Selalu begitu dan selalu berakhir dengan diare. “Justru di situ sensasinya! Hahaha..” kilahnya sambil meringis keluar dari kamar mandi. Entah sudah yang ke berapa kali hal itu terjadi pada tahun itu.

Tahun itu, genap 3 tahun mereka berpacaran. Masa yang menentukan, orang-orang sering bilang begitu.

Mayar masih memperhatikan jagoannya menuntaskan kerang-kerang yang menganga amis. Pilihan pengamen yang hadir pun sudah beragam. Dari mulai lagu Iwan Fals, yang mirip Iwan Fals, sampai The Radios “We could flow like tear drops from the ocean..” Walau liriknya sering mengalami perubahan di tempat. Entah apa pun itu. Tak penting.

Yang penting sekarang adalah Mayar akan melanjutkan kuliahnya ke Inggris. “Sebulan empat surat, dua kali nelpon deh!” tukas Pius. Masih geram dengan keputusan kepergian Mayar. Sudah lama rencana itu dicanangkan, hanya saja dia tak menyangka harus menghadapinya sekarang. 3 tahun umur hubungan mereka yang jatuh bangun dan masih bertahan.

Bertahan untuk apa? “Ya kawin! Gampang kan?!”
Pius selalu kesal akan pertanyaan Mayar yang itu-itu aja.

Mayar, si pendiam yang cantik. Selalu terlihat anggun dan bijak dalam setiap tutur katanya. Selalu menyimpan sifatnya jahilnya hanya kepada orang-orang tertentu. “Malu ah”. Dia selalu tersipu kalau teman-temannya baru saja menemukan sifat isengnya yang tak pernah mereka sangka akan keluar dari seorang Mayar. Di balik kewarasan pikiran dan ketegarannya Mayar sering menyimpan rasa insecure yang dalam. Akan cita-citanya. Akan keputusan-keputusannya. Akan ibadahnya. Akan cintanya.
Terlebih untuk Pius. Kekasih seumur hidupnya. Ya iya! Sejak kecil mereka sudah bersama-sama. Orang-orang sampai menganggap mereka adalah kakak-adik. Dan pada kenyataannya mereka adalah sepasang kekasih pun agak sulit diterima.
Pun begitu, Mayar selalu merasa kurang memberi yang terbaik untuk Pius. Kurang attentive lah, kurang sabarlah, terlalu cuek lah.

Dan sekarang Mayar akan mengungkapkan rahasia itu.
Lebih baik kau tahu sekarang, sayang. Akan terlihat konyol memang. Dan sebenarnya memang konyol. Bahwa ternyata aku selalu memikirkan diriku, bukan untukmu. Selama ini kita bersama hanya untuk teman kesunyianku. Teman pertanyaan-pertanyaanku. Temanku tumbuh dewasa, atau at least aku menganggapnya seperti itu. Dewasa raga, dan tak pernah aku tahu akan dewasa hati.
Biarlah.. biar kau sebut aku pengecut. Aku memang. Saat ini aku malas untuk berpikir lebih keras untuk semua pertanyaanmu nanti. Aku egois, kau kan tahu itu. Untuk lebih adil lagi, kau juga ‘kan egois! Kita sama-sama tahu ini tidak adil. Kita sama-sama tahu kita selalu menutupinya..

Sesaat lamunan Mayar buyar ketika Sam, sobat karib Pius, datang bergabung. Sam juga tidak kalah sadis dalam urusan kerang. Hanya saja Sam mempunyai ketahanan tubuh yang lebih prima dalam urusan perut.

Sam dan Pius kembali memesan kerang rebus dalam porsi yang banyak. Mengejar ketinggalan, alasan Sam. Merasa terlalu asik dengan kerang-mengerangnya, Pius seolah tersadar dengan keberadaan Mayar di depannya.

“May, kamu ngga mesen juga? Atau mau yang lain kek. Mau apa?”

“Mau putus.” sambut Mayar singkat dan segera bergegas pergi.

Pius dan Sam terdiam percaya tidak percaya. Mereka cuma saling melihat satu sama lain dan Mayar pun sudah menaiki angkot dan hilang.

Tak pernah terdengar kabar lagi sejak itu. Pius pun masih tenggelam dengan teka-teki Mayar. Setahun, dua tahun, tiga tahun dan terlupakan.

“..And twisted thoughts that spin
round my head
I’m spinnin’
Oh I’m spinnin’
how quick a sun can
drop away”

Baca Black Part 1

Leave a Reply