Black. The End.

‘Sampoerna Djimar! Hahahaha…’ Mayar tergelak melihat ekspresi Sam yang masih kaget dengan kehadiran Mayar di hutan itu. ‘Aku sudah melihat namamu di daftar kru yang meliput Aceh di Jakarta. Makanya aku berani datang sendiri dan dikawal olehmu, sobat lamaku yang gila!… Heh! Kok bengong? Sini dong sambut teman lamanya!’ Mayar berhambur memeluk Sam yang masih terdiam kayak melihat setan di siang bolong. Atau mungkin pengaruh gele? pikirnya.

Speak of the devil. Belum hilang emosinya tentang Pius, sekarang sudah dihadapkan lagi dengan Mayar, awal dari semua drama itu. Mimpi apa gue kemaren! umpatnya.
Kenangan-kenangan lama pun langsung berceceran di benak Sam. Masa-masa mereka bersama Pius dan Mayar. Suka duka mereka bertiga. Biasanya bertiga, karena Sam tidak pernah punya pacar yang awet. Jadinya Pius dan Mayar selalu menjadi tumpuan kekosongan jiwanya, begitu Sam menggambarkannya. Walau sering sekali Sam hanya menjadi kambing congek mereka berdua. Ah, semakin kuat rindunya kepada Pius.

Sam dan Mayar kemudian bersiap-siap untuk berangkat meliput. Sebuah perundingan yang diadakan di sebuah lereng kurang lebih 10km dari kemah mereka. Di perjalanan mereka hanya saling update tentang belasan tahun mereka tidak berjumpa. Tidak tersebut nama Pius. Mayar masih enggan memulainya. Sam pun segan.

Mayar, seperginya dari Bandung melanjutkan sekolahnya ke London dan jatuh hati dengan jurnalisme. Sosoknya yang pintar dan berkarisma menjadi modal tersendiri yang membuat dia bisa mendapatkan posisi reporter di stasiun televisi Hong Kong. Tidak jarang dia dikirim untuk sebuah assignment yang penting. Maklum, 6 bahasa dikuasainya.
Dan Sam, masih berkutat dengan kameranya. Menjadi mahasiswa dropped out menjadi kemudahan tersendiri baginya untuk menjadi fotografer. Berawal dari sekedar foto-foto model, landscape, aerial hingga 4 tahun belakangan ini lebih berkutat dengan foto jurnalisme. Apalagi dia sangat menyukai petualangan. Sam rela tidak dibayar demi kesempatan bergelantungan di helikopter. Uang gak penting, kepuasannya gak kebeli! Dari dulu Sam memang sering asal dalam keputusan-keputusannya. Walau demikian tetap setia, memotret.

Di tengah perjalanan mereka dicegat oleh sebuah kawanan bersenjata. Tidak begitu jelas dalam pihak siapa mereka. Tidak ada juga tanda atau seragam yang bisa dikenali dari kawanan itu. Pak Said pun turun untuk mengutarakan maksud dan tujuan mereka. Tentunya hanya Pak Said yang bisa berbahasa Aceh. Sekembalinya dia menjelaskan bahwa hanya orang yang berbahasa Aceh yang bisa melewati garis perbatasan yang mereka buat tadi. Dan perihal perundingan itu, sedang berlangsung dari pagi tadi. Tidak boleh ada pihak lain yang memasuki area itu sampai sebuah kesepakatan tercapai.

Mayar masih tidak terima. Dia mencoba turun untuk bernegosiasi dengan mereka namun segera dihentikan oleh Sam. ‘Logika loe bukan logika mereka May! Kita tunggu di sini aja.’ Masih kesal Mayar pun menurut.

‘Ternyata ada juga yang berubah dari loe sekarang.’ Sam tersenyum melihat Mayar yang masih kesal tidak mendapatkan liputan yang berarti.
‘Apanya? Perasaan aku begini-begini aja dari dulu.’ tukas Mayar.
‘Dulu loe lebih pendiam, sekarang lebih vokal.’
‘Hehehe.. iya ya? Mungkin itu semua tuntutan pekerjaan. Jadinya terbiasa.’ Mayar sedikit rikuh. Dia selalu malu kalau ada yang memberi perhatian kepadanya.
‘Eh tapi enggak juga kali ya. Mungkin loe udah latihan dari dulu,’ Sam mulai jail. ‘Itu lho.. sejak loe ninggalin kita bedua makan kerang rebus. Hahahaha..’ Sam sudah tidak tahan untuk tidak menyentuh topik itu.
‘Rese! Aku kira kamu ngga akan ngungkit soal itu. Udah ah. Nyebelin.’ Mayar semakin terpojok. Setegar-tegarnya dia, untuk persoalan ini selalu menjadi kelemahannya.
‘Biarin ah! Udah lama toh kejadiannya. Lagi pula he deserves to know why. You threw him in hell for years May!..’ Sam mulai menjaga nada suaranya. Dia menyadari emosinya mulai bermain. ‘And he threw me as well.’ lanjutnya.

Diam. Hening. Masing-masing membuat jarak.

Tidak terasa hari sudah gelap. Mayar masih mengumpulkan keberanian untuk situasi ini. Dia tersadar akan konsekwensi dari perbuatannya. Yang selama ini dia anggap hanya bebannya sendiri. Paling tidak jalan hidup orang-orang yang disayanginya mempunyai pengaruh tersendiri akibat ulahnya. Adilkah itu? Haruskah dia turut bertanggung jawab akan semua itu? Tidak bisakah nilai-nilai sentimental itu dibuang saja dan go on with our lives? Tapi biar bagaimana pun Mayar mempunyai rasa cinta yang amat sangat terhadap Pius. Terhadap Sam. Terhadap persahabatan ini. Dan sekarang semakin kuat dirasakannya.

‘Sam.’ Mayar memecah kesunyian. Sam seolah terbangun dari lamunannya. ‘Aku selalu merindukan kalian. Selalu. Dan sering aku harus mengelabui hal itu. Aku merasa terhutang akan Pius. Dia selalu menjadi hambatan atas apa yang aku rasakan dalam persahabatan kita ini. Hanya karena kami pernah pacaran. Entah kenapa.’ Mayar tersenyum kecut. Namun lega, kebodohan itu sudah diutarakannya. ‘Padahal mestinya kan kita bisa aja bersahabat terus sampe sekarang kan? Ya kan?’ timpalnya lagi. Kali ini kalimat itu terdengar sangat lugu.

‘Mayar darliiiiiiiing…’ Sam mulai terkekeh geli. ‘Loe tu masih konyol aja ye! Udah lah May. Gua yakin secara kita sekarang udah pada ‘gede’, pastilah kita bisa nerima itu semua dan melanjutkan apa yang kita punya sekarang. Suer!’ Sam merasa lega sekali. Dia juga tidak menyangka akan selega itu. Bertahun-tahun drama ini terjawab sudah. Awas aja kalo Pius sampe ngga terima juga, ucapnya dalam hati.

‘Ya udah. Sekembalinya kita ke Jakarta nanti, akan gua seret pujaan hati Celfius tersayangmu itu kehadapan loe. Kita reuni. For old time sake. Jangan ngeles lagi loe ya.’

‘Rese ah!’ Mayar kembali tersipu. Sebutan ‘pujaan hati’ itu semakin nyata adanya. Sekarang. Di hatinya.

Pak Said sudah tertidur di atas kap mobil dari tadi. Sebagian dari kawanan bersenjata tadi masih berjaga. Lengkap dengan senjata yang terkokang. Situasi bisa saja berubah sewaktu-waktu. Sam dan Mayar pun memutuskan untuk menunggu dan tidur di mobil saja.

•••

Sam tersentak dari tidurnya. Sudah jam berapa ini? Wah sial! Kemana orang-orang itu? Bergegas dihampirinya Pak Said yang masih tertidur di atas kap mobil. Dibangunkannya dengan kasar. Sampai akhirnya dia melihat lubang darah merebak lebar di perut dan dadanya. Sam kalut. Pak Said mati!

Mayar! Dia melihat ke dalam mobil memastikan Mayar masih ada. Oh tidak! Bukan hanya Mayar yang berada di dalam mobil itu. Sam melihat dirinya juga sudah tergeletak di bahu Mayar. Dengan luka tembak masing-masing di dada…

Pagi itu sepi sekali.

“Now the air I tasted and breathed has taken a turn…”

5 Responses to “Black. The End.”

  1. Yoodi Says:

    hmm…mister djimar is dead in this story? sad !

  2. Diki Says:

    Happy endings are hard to find nowadays, Mas. Or probably don’t see it that way :)

  3. ABOTT Says:

    Kayak di film apa ya ini cerita, ntar gua inget-inget lagi ya Dik ?

  4. Joy Says:

    well? kok gak di terusin?? terusin dunks.. it could turn out good ;) winkwink

  5. Diki Says:

    Lah.. this is the end toh, Joy.. mo disambung ke mana lagi :)
    Abott,
    lu kebanyakan nonton lu!!

Leave a Reply