I am Sam (Black Part 3)

Nanggroe Aceh Darusallam, Agustus 2005.

Pagi ini sepi sekali. Ini hari ke 4 gua berada di sini. Bosan. Orang-orang itu lagi. Bahasa mereka pun gua tak bisa mengerti. Perundingan yang melelahkan. Entah apa yang mereka coba pertahankan. Sama-sama makan nasi. Sama-sama Islam. Sama-sama manusia. Ah.. mungkin bahasanya! Iya! Mereka bertahan untuk tetap bisa berbahasa Aceh. Haregene.

Hutan ini apalagi! Kayak kuburan saja. Konon katanya binatang-binatang sudah hijrah entah ke mana rimbanya beberapa waktu sebelum tsunami datang menghantam Aceh.

Apa yang tersisa? Ganjo! Haha.. 2 malam saja di sini aku sudah bisa memetik hasil lain daripada perundingan bodoh ini. Berkat tuntunan dari Pak Said, penunjuk jalan-translater-koordinator konsumsi-dan ya, bisa juga dibilang bandar- aku bisa dengan sangat mudah mengenali tumbuhan nirwana itu dalam hitungan 5 detik di hutan ini. Banyak sekali.

Ah Pius sahabatku! Kalau saja loe ada di sini. Kita bisa ulang lagi kejayaan masa lalu. Hanya loe yang bisa mengerti apa artinya ‘smoke em if you got em!’. Hanya saja loe sering terlalu jauh tenggelam dalam setiap lintingannya. Bukannya jadi ringan malah menjadi awal perenungan yang tak henti-hentinya. Siapa lagi kalo bukan Mayar! Dan loe selalu menyangkalnya. Loe terlalu malu mengakui kekalahan loe. Heran.. ada orang yang sampai segitunya mencintai. Mencintai bayangan pula! Konyol.

Ah sobat, apa kabarmu? Lama sekali kita tak berkabar. Jangan-jangan loe sudah kawin. Hahaha.. Tak apalah. Asal gua ngga ngeliat lagi wajah terawang loe itu. Wajah kosong itu. Wajah yang sangat gua kenal. Dan gua benci. Dan yang menjadi perbedaan kita sampai sekarang.

I miss you brur. Sumpah.

Sam masih geram. Ditutupnya catatan harian itu dan kembali membakar ganja terakhirnya. Gampang, nanti juga ada lagi, pikirnya. Ditariknya dalam-dalam. Menghilangkan sesuatu yang menusuk di dadanya tadi.

Dari kejauhan tampak Pak Said memanggil. Sam segera beranjak menuju kemah mereka. Mudah-mudahan kali ini ada perkembangan yang lebih jelas. Daripada hanya berdiam diri di hutan ini tanpa kepastian. “Perang, peranglah! Nyerah, nyerahlah. Susah amat.” Sam masih merutuk dalam hati.

“Dek Sam, barusan saya terima kabar dari Jakarta. Adek diminta untuk tinggal beberapa hari lagi di sini. Ada reporter broadcast asing yang mau meliput juga. Kita ditunjuk untuk mendampingi. Mereka sedang menuju ke sini.” tutur Pak Said. Ya udah. Mau bilang apa juga.

Belum selesai Sam dengan omelannya terdengar suara mobil dari kejauhan. Mobil diesel. Sam tampak sedikit lega. Itu artinya mobil ‘non-blok’, begitu mereka menyebutnya. Bukan pro GAM atau pun NKRI. Untuk sesaat menjadi netral saja bisa menyelamatkan jiwa.
Mobil itu berhenti di depan kemah mereka. Sekali saja terdengar suara pintu terbuka dan kemudian menutup kembali. Dan mobil itu pergi lagi. Hanya satu orang, nekat amat, pikirnya. Sam segera keluar menghampiri reporter itu.

“Buset!..Cewek!” teriak Sam dalam hati melihat sosok wanita di depannya. Perempuan itu masih sibuk membereskan perlengkapannya membelakangi Sam.

“Hi, I am Sam” dia menegur. Secara katanya dari broadcast asing, ya ngomong londo kali ya. Wanita itu berbalik dan tersenyum.

“Anjritt!!”

…bersambung…

2 Responses to “I am Sam (Black Part 3)”

  1. Yoodi Says:

    anjrit…bakar dulu ah sambil nunggu sambungan nya. Buruan nyambung pak…keburu gitzz neh.

  2. Diki Says:

    kalo udah kebas kasi tau aja mas.. ntar tak sambung..

Leave a Reply