Dia dan Rahasia (untuk) Sejuta Umat

August 12th, 2005 by dikisatya

Kesetiaan. Hanya itu yang aku punya.

Setiap pagi aku pergi berkerja kata-kata itu yang selalu terucap dalam doa. Doa agar tidak terganggu dari segala godaan. Yang selama berpuluh-puluh tahun telah kuemban.

Ritual sakral dengan fasih kulakukan. “Mengantar dokumen penting” hanya itu yang mereka tahu. Aku pun lantas pergi ke toilet. Berganti pakaian. Menyusup dari pintu belakang. Lantas menuju ke dalam mobil container itu. Di dalamnya aku memakai lagi topeng penutup wajah dan setelah itu meringkuk masuk ke dalam peti kemas yang sudah disediakan.

Tak lama kemudian supir pun datang dan membawa mobil itu ke tempat tujuan. Aku pun tak pernah tahu di mana. Tak ada yang pernah tahu. Supir yang mengantarkanku pun tidak tahu sebenarnya dia sedang membawaku di dalam peti kemas itu. “Mengantar supply barang” hanya itu yang dia tahu.

Kalau peti kemas sudah berguncang-guncang, artinya aku sudah sampai. Di sana, seperti biasa, aku pun menemui orang-orang yang bertopeng. Dari semua mereka yang bertopeng, salah satunya adalah Tuanku. Bisa kukenali dengan bahasa isyarat tubuhnya, dia suka menggaruk selangkangannya.

Mereka akan menggiringku ke dalam ruang kaca kedap suara itu. Ruangan itu seperti ruangan investigasi yang biasa terlihat di film-film polisi. Cermin satu arah, mereka dapat melihatku, namun aku tidak bisa melihat mereka.

Aku pun mulai bekerja. Meracik campuran bahan-bahan tersebut. Berpuluh-puluh tahun kulakukan ini. Tak boleh salah. Setiap sendok harus tepat. Setiap iris harus rapih. Tak ketinggalan, cara mengaduknya pun harus dengan jurus yang benar. Tak ada teknologi canggih pun yang bisa menyamai formula ini. Berkali-kali orang lain mencoba, tidak pernah berhasil. Paling hanya 60% dari aslinya.

Demikian formula itu pun selesai. Tugasku sudah selesai. Sekarang giliran tim pembagi yang akan menakar tiap-tiap kantung ajaib (begitu kami menyebutnya) itu. Untuk kemudian disebarluaskan.

30 menit yang melelahkan. Tetapi sangatlah penting. Menyangkut ribuan orang, jutaan bahkan. Pernah aku tergoda untuk sesekali melenceng dari skenario ini. Bahkan berpikiran untuk membocorkannya. Namun harga dari sebuah kesetiaan terlalu besar untuk dibandingkan dengan pikiran sesaat tadi.

Mereka pun memulangkanku. Kali ini tak lagi bertopeng. Tapi selalu bersama Tuanku. Aku akan diturunkan di suatu tempat umum. Dari situ aku akan mencari kendaraan umum untuk kemudian kembali ke kantor. Tidak lupa Tuanku memberi kantongan plastik bertuliskan “Toko Roti Djaya”. Tampak seperti bungkusan roti yang lezat, tetapi dalamnya mudah ditebak, uang. Itulah gajiku sebenarnya, si peracik formula bumbu mie instan.

[Terinspirasi dari tulisannya Sesek di blognya. Tengkyu Sek! hehehe..]

Khayalan Tingkat Tinggi

August 12th, 2005 by dikisatya

“Aku bisa saja membunuhnya!” teriakku dalam hati.

Paling tidak dengan garpu makan. Atau pisau roti yang tertata di meja. Pura-pura menjatuhkan minuman yang kusaji, agar dia merunduk dan tergoroklah lehernya. Selesai! Manusia yang paling diburu dan dibenci orang itu pun bisa kuenyahkan seketika itu. 10 tahun penjara tak apalah. Mungkin juga orang-orang memaafkannya, karena toh manusia itu juga banyak yang mau membunuhnya. Atau menghukumnya. Atau apapun pilihan katanya, yang penting menderita.

Bertahun-tahun dibuatnya orang sengsara. Tertipu. Terperdaya dengan kedok-kedok rencana kemakmurannya. Memang dia makmur, kami tidak. Tidak sedikit yang sudah disingkirkan. Tidak sedikit juga yang menjadi buta. Atau yang bodoh. Atau yang tetap bodoh sekali pun. Kehancuran yang ditinggalkan pun tidak sedikit dibanding kerukan harta yang dia rampas dari masa keemasannya dulu. Dan banyak lagi. Tidak sedikit.

Walau pun demikian, dia masih santun dalam tutur katanya. Memesan makanan, bahkan menanyakan menu spesial hari ini, dan tak lupa memesan hidangan penutup. Tidak juga ramah seperti dugaanku. Kalau dia sudah tampil sangat bersahaja seperti sekarang, makan di restoranku yang juga sederhana ini, kenapa pula dia mesti arogan seperti dulu?! Namun ternyata aku salah. Air mukanya dingin saja.

Tapi mata itu. Mata itu tidak lagi mata yang mengelabui seperti dulu. Seperti yang kukenal. Seperti orang-orang takuti dan harus terkecut senyum. Mata itu padat sekali. Ruas-ruas retinanya seperti terlalu banyak untuk memancarkan ekspresi. Mungkin gambaran perjalanan hidupnya bisa terlihat di situ. Walau pun sudah kabut sekarang. Sejenak aku pun hampir tak bisa mengingat dosa apa yang membuatnya seperti sekarang ini. Terlalu banyak, aku pun malas menghitungnya.

Sekarang dia memanggilku. Akan membayar dia, pikirku.

Sekarang! Sekarang saatnya! Kau akan tentukan hidupnya. Kau bisa mengakhiri teka-teki ini. Pertanyaan, dendam, kesempatan orang untuk menjadi senang.. Sekaranglah!

Dengan limbung kuhampiri dia. Menanggapi panggilannya, menerima lembaran uang dan mengucapkan terimakasih. Kali ini balik dia yang menanggapi rasa penasaranku.

“Kau ingin mati?” tanyanya.
“Tidak” jawabku. Tentu saja kaget. Aku tidak siap dengan pertanyaannya.
“Kau ingin mati bersamaku?” dia bertanya lagi.

Sial! benar juga dia. Untuk apa aku mati bersamanya. Aku terpaku. Benar-benar membatu. Geram, marah, bingung perlahan-lahan menjadi bius yang membuat aku takut. Tak jelas takut akan apa.
Dia pun beranjak dari kursinya. Menganggukkan kepala dan berjalan keluar. Aku masih terpaku. Mulai lunglai. Pandanganku berkunang-kunang, terhuyung-huyung dan kemudian jatuh.

Sekitar satu jam kemudian aku terbangun oleh kapas alkohol yang disengatkan ke lubang hidungku. Pandanganku masih berkunang-kunang tak sepenuhnya sadar. Orang-orang di sekelilingku pun ramai. Satu-satu bertanya dan mencecar. Cukup untuk membuatku pingsan lagi. Dalam penjelasan singkat dari mereka aku pun diceritakan duduk perkaranya.

Dia ditemukan mati di depan pintu restoranku. Diagnosa mengatakan penyebab kematiannya adalah kolesterol berlebihan.

Aku? Apakah aku membunuhnya juga? Entahlah. Pemeriksaan masih akan berlanjut sampai dengan 1 bulan ini. Atau lebih. Entahlah..

Surat dari Tahun 2005

August 12th, 2005 by dikisatya

Gie, setelah masamu sudah banyak yang berubah. Tidak lagi kaisar Hirohito. Tembok Berlin sudah rubuh. Soviet pun sudah bubar berantakan. Dan masih banyak lagi perubahan dunia yang menjadi sejarah.

Tidak lagi Soeharto. Ada Habibie. Ada Gus Dur. Ada Megawati (putrinya Soekarno, presiden yang kau kritik itu). Dan sekarang Yudhoyono. Namun selain Soeharto, tidak ada yang pernah menjabat selama 5 tahun penuh. Jadi masing-masing sibuk dengan rencana ke depan yang selalu terputus oleh alih jabatan yang harus dimulai lagi dari nol. Dan sistem baru lagi. Dan orang baru lagi. Dan idealisme yang baru pula. Dan lagi-lagi dari nol.

Mahasiswa? Keren banget, Gie. Kalau dulu hanya dominasi UI dan perguruan tinggi negri lainnya, sekarang sudah sangat banyak mahasiswa yang mau turun ke jalan menyuarakan suara rakyat. Berikut dengan agenda yang beragam-ragam tiap minggunya.
Dari sekedar memaki pemerintah, mencoba-coba merubah peraturan, atau sekedar ikut-ikutan berpawai menyaingi badut yang mereka pertentangkan. Terkadang menjadi sangat sulit untuk membedakan duduk permasalahannya.

Rakyat kita pun sekarang sangat beragam, Gie. Tidak sepenuhnya seperti dulu, semuanya miskin. Jadi tidak semuanya juga peduli akan kemiskinan. Atau kesama-rataan. Atau persamaan hak. Atau apapun itu dalam dalil adil. Masih banyak koruptor, itu pasti. Tapi masih banyak juga yang memilih untuk tetap miskin. Biasanya mereka lebih memilih protes ketimbang berjuang memerangi kemiskinan itu sendiri.

Koe hebat ya, Gie. Perjalanan hidupmu di filemkan! Hanya saja kali ini idungmu mancung! Tetapi dengan referensi dan riset yang mendalam, kami-kami yang muda ini bisa kurang lebih menangkap apa yang dulu kamu teriakkan, walau pun teriakan itu lebih terdengar dari dengung hatimu. Bukan toa-toa sember.

Gua jadi mikir, Gie. Sekiranya kau hidup di zaman sekarang, di mana kau berada? Di ruang-ruang kampuskah? Di gunung-gunung sepikah? Atau masih bersembunyi dari rongrongan intel? Di hati para cecewe-cecewe kah?

Gua harap tidak sekedar tercetak di kaos-kaos pop sablonan a la Che Guavara..

Kangen abangku Yanto, 1968-1988.